KESEHARIAN KELUARGA GUS IDRIS
Pernah suatu hari Ada salah satu jamaah Blitar yg bertanya Kpd Gus Idris lewat pesan email...
Assalamualaikum Gus, mohon maaf beribu maaf yg Pada kesempatan ini, sudilah kiranya Gus idris memenuhi permintaan dan menjawab pertanyaan saya:saya hendak meminta Gus idris untuk bercerita tentang keseharian keluarga Gus: istri dan anak-anak Gus idris dari segi tarbiyah, zuhud, qanaah, lembut, sabar, wara, dalam ibadah dll supaya kami bisa meniru dalam menciptakan kelurga dengan cahaya Ilahi insyaAllah.
Sekian dari saya ya Gus, maaf telah merepotkan maafkan atas kelancangan saya, maafkan jika ada kata-kata yang salah dan su’ul adab. tolong ingat saya selalu ya Gus dalam doa Gus idris supaya Allah mengampuni dosa saya dan menjadikan saya hamba yag lebih baik.
salam cinta dan rindu,
wa jazakumullah khairan katsira,
Gus Idris menjawab pesan email tsb
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,
Saudariku yg kumuliakan,
beribu terimakasih atas doanya atas pendosa ini, sungguh tiada hadiah lebih agung dari doa.
hamba pendosa ini bukanlah yg patut dicontoh sebagai guru yg baik dan panutan yg baik, walaupun hamba berusaha mencapai kehidupan yg zuhud, wara, tawadhu, sakinah, dalam rumah tangga dan dalam bermasyarakat.
zuhud adalah hidup dg sederhana dalam keduniawian, hamba belum mampu mencapainya, namun sebagian usaha yg hamba lakukan adalah menghilangkan cinta pada semua hal yg bersifat duniawi, berupa harta dll yg tidak ada sangkut pautnya dg asesoris dakwah.saudariku yg kumuliakan, hamba pendosa ini belum pantas menjadi murid yg baik, bagaimana hamba menjadi guru?,
hamba membutuhkan mobil yg nyaman meskipun terkadang harganya sangat mahal untuk kenyamanan mencapai banyaknya majelis dan ketepatan waktu untuk tiba di lokasi yg sudah ditunggu para tamu Rasulullah hampir setiap malamnya, disatu pihak tanpa hamba punya kendaraanpun hamba akan siap dijemput oleh mobil jamaah yg akan mengantar hamba kemanapun hamba akan pergi, namun hamba tak mau menyusahkan orang lain, apalagi membebani para penyelenggara untuk harus menyediakan kendaraan penjemput pula, maka hamba membeli mobil2 tersebut dg angsuran,
Saya merawat mobil itu secara sebaik baiknya secara mekanik dan mesinnya dg perawatan yg sangat serius, demi tak menghambat kelancaran dakwah kami, namun hamba tidak perdulikan body mobil yg sudah penuh baret dan penyok, kami tak perlu membenahi bodynya, yg hamba butuhkan adalah mesinnya dan bagian dalamnya untuk kelancaran dakwah.
Saya hingga kini masih blm punya rumah pribadi, masih fokus membangun pesantren dan tempat majlis dan itupun nanti saya akan numpang di tempat mulia itu, walaupun ponpes itu nantinya besar dan bagus, tentunya itu hajat dakwah untuk menampung tamu majlis setiap malam minggu, jika tempat saya sempit, maka jamaah akan memenuhi dan meluber keluar dan mengganggu kenyamanan tetangga pula, maka saya berusaha dg kemampuan saya membangun tempat majlis yg besar, namun nantinya mungkin hanya bisa menampung sekitar 700 orang saja, jika massa melebihi itu, hamba belum ada kemampuan membangun tempat yg lebih besar lagi.
hamba menata tempat itu senyaman mungkin, tapi itu demi kenyamanan para hadirin yg menghadiri majelis, namun akhir akhir ini ketika hamba sering ngedrob, maka nantinya hamba perlu menata kamar untuk lebih kedap suara, karena suara keras sangat mengganggu istirahat hamba, jika istirahat hamba terganggu maka dakwah pada ummat ini terganggu.
Tentang anak2 hamba, hamba tak punya banyak waktu mendidik anak anak, hamba jarang sempat duduk dg mereka, namun umiknya dan santri yg nanti akan mengambil alih pendidikan anak,
namun Allah swt sangat memberi hamba anugerah yg diluar dugaan, puji syukur bagi Nya setiap waktu dan kejap, anak anak berubah semakin baik dan berbudi luhur, sering mereka menangis dalam doa, apalagi pas mahalul qiyam diusia segitu pasti anak saya Haddad menesteskan air mata karena rindu dgn Rasul Saw, mereka tidak nakal, baik, beradab, sopan, ceria, dan menyenangkan, mereka tak suka dan tak pernah kenal dg lagu lagu duniawi, bagi mereka qasidah majelis dan bacaan alqur’an murottal yg mengisi telinga mereka di siang malamnya, bahkan ketika tiap mau tidur Haddad selalu mendengarkan murotal Alquran sampai dia terlelap. mereka tak mau membuka auratnya dimuka umum.
hadad pernah menghilang dari majelis, saya meliirik ke kiri dan kanan, ia tak ada, dan datang ditengah acara dg wajah penuh airmata dan cemberut, selepas majelis saya tanya kenapa, ia berkata : haddad lupa membawa peci, hadad tidak mau masuk majlis tanpa peci/kopyah, haddad nangis diluar, lalu ada jamaah yg membelikan hadad peci, baru hadad masuk majlis, dan hadad jadi telat..
sungguh didikan didikan ini muncul dari tarbiyah ilahiyah diluar kemampuan saya, demikian pula Syandana yg kini sudah membeli cadar pula saat ke majelis majelis ia bercadar, saya sempat menegur istri saya, untuk apa ia pakai cadar usianya masih kecil, biar saja, nanti ia jatuh tersandung…, kata istri saya busyro Syandana menabung berbulan bulan sendiri di celengannya untuk membeli cadar, maka saya diam saja tak mau mengecewakannya, terkadang mereka kecapean dan keletihan kalau pas jadwal majlis jauh sehingga di majlis mereka tertidur, akan tetapi ketika waktu mahalul qiyam mereka serentak bangun tanpa ada yg membangunkan
Dan seringkali busyro Syandana yg masih duduk di bangku TK tiap kami kasih uang jajan selalu dia buat amal semuanya, ketika ditanya umiknya "td beli apa aja nak, dia jawab untuk amal tabungan akhirat busyro..
mereka sering mendapat uang hadiah dari jamaah, mereka menyimpannya di celengannya, saya tanya untuk apa kalian menyimpan uang itu?, mau beli apa?, sepeda?, mobil2an?, atau apa?, mereka katakan : kami mau menabung untuk bisa pergi ke madinah untuk ziarah nabi saw, kami mau beli pesawat sendiri, jadi bisa mengajak jamaah majelis ramai ramai ke madinah, Abi jadi pilotnya, haddad jadi kondekturnya, Ummik dan busyro Syandana jadi pramugarinya…,
saya hanya bisa geleng geleng dan membiarkan saja.
Saya takjub melihat anak-anak saya sangat patuh pada saya. Sampai jika saya dakwah dan tak pulang, maka anak-anak saya menciumi baju dan bantal saya sambil tertawa dan berkata, ‘Ini bantal abi… abi nggak ada kita ciumi bantalnya.’ Mereka berebut menciumi bantal saya, subhanallah. Kejadian itu direkam salah satu santri
mengenai istri, saya lebih senang memanggilnya bukan dg namanya, tapi dg kata sayang (kekasih utk wanita), atau ratuku, atau cintaku, atau sesekali dg panggil ummik
saya tidak berani dan sangat takut menyentuh barang istri saya, saya tak pernah berani membuka isi tas istri saya, saya sangat tidak berani membuka lemmari istri saya, dan saya tak berani menjamah hp istri saya, apalagi membuka sms atau isinya, jika berdering dering berkelanjutan saya biarkan saja tanpa berani menyentuhnya..
jika saya masih beraktifitas dg portable dimalam hari tentang dakwah, saya izin dulu apa boleh saya nyalakan lampu kamar atau tidak, jika ia sudah lelap tertidur, maka saya hanya menggunakan lampu tidur untuk membuka file dll, walau itu menyakiti mata dan membuat mata pedas, itu lebih saya pilih daripada saya menyalakan lampu mengganggu tidurnya.
dalam makanan pun saya hampir tak pernah meminta suatu type makanan, saya hanya tanya ada makanan apa, ada makanan atau tidak, karena seringkali saya pulang makanan sudah habis, karena saya pulang hampir selalu larut malam dari majelis, mungkin ada tamu atau lainnya, jika tak ada makanan maka saya tak makan, cukup minum teh saja, jika ada makanan, dan saya sedang menyukainya maka saya memintanya, jika saya sedang tak menyukainya maka saya tak makan,
saya tak punya menu makananan favorit, apa saja asal halal, jika istri sudah tidur, saya lebih sering memilih minta disajikan makanan oleh santri santri daripada membangunkan istri.
saya mengizinkan istri saya pergi kemana saja selama tempat yg baik tentunya, tanpa perlu ia izin, kecuali perjalanan marhalatain (yg melebihi 82km) atau perjalanan jauh.
kadang saya pulang istri saya sudah tidur dikamar anak anak maka saya lebih sering membiarkannya tanpa menganggunya,tentunya saya mengetahui istri saya orang baik baik dan selalu diantar santri, keluarga atau jamaah nisa lainnya
namun bukan saya tidak pernah menegurnya, saya menegur dg lembut, atau dg tegas, namun teguran tegas mungkin bisa dibilang tak pernah terjadi dalam setahun.
saya lebih cenderung membiarkan jika ia salah namun tidak terlibat dosa pada Allah, tapi salah pada saya, lebih baik saya maafkan, jika berulang ulang maka saya tegur dg lembut, jika terjebak pada hal yg mungkar, dosa, misalnya mencaci/mengumpat orang lain, maka saya tegur dg lembut, atau saya tinggalkan ke toilet tanpa mau mendengarkan kekesalannya / gunjingannya pd orng lain, itu sudah isyarat baginya bahwa saya tak suka dg pembicaraan itu, jika ia masih meneruskannya maka bisa saja saya diam tak menanggapinya, atau jika sudah berlebihan maka saya potong dg nasihat, maafkan saja, itu keinginan Allah swt untuk menghapus dosa kita, menggunjingnya berarti mengambil dosanya untukmu.., sudah cukup dosa kita, untuk apa mengambil dosa orang lain, doakan saja, kita dapat pahala, maafkanlah, berarti Allah swt memaafkan banyak dosa dosamu, carilah pengampunan dosa dg memaafkan kesalahan orang.
namun jika bertentangan dg syariah atau membahayakan dakwah, maka teguran saya tegas, dan teguran tegas saya lebih sering lewat wa atau telpon, demi tak terlalu menyakitinya jika berhadapan muka.
jika berlarut larut, maka teguran tegas saya lugas dihadapannya,
demikian pula pada anak anak, saya cenderung lembut dan bercanda walau sambil menanyai hafalannya, namun jika berbuat salah yg membahayakan, misalnya memaki jamaah majelis, atau ucapan yg tak beradab, saya marah, dan anak anak sangat menyayangi saya, dan mereka tidak mau saya marah padanya, maka jika wajah saya berubah misalnya, mereka sudah mengerti untuk tak melakukan lagi perbuatannya.
semua adalah anugerah Allah swt, bukan dari usaha saya.
semoga Allah swt melimpahkan cahaya keimanan, ketabahan dan kesejukan pada anda saudariku, dan cahaya keluhuran dihati sdri hingga selalu terjaga dari terjebak pd dosa, amiin
semoga Allah swt meluhurkan setiap nafas anda dg cahaya istiqamah, dan selalu dibimbing untuk mudah mencapai tangga tangga keluhuran istiqamah, dan wafat dalam keadaan istiqamah, dan berkumpul dihari kiamat bersama ahlul istiqamah
semoga Allah swt memperindah hari hari saudari dg seindah indahnya dan semakin indah dan semakin indah hinggaberjumpa dg Sang Maha Indah
Demikian saudariku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu a’lam
Komentar
Posting Komentar